Ritual Pertanian di Desa Penambangan, Kabupaten Tuban

Ritual Pertanian di Desa Penambangan, Kabupaten Tuban
(Foto sajian wiwitan: ulinulin.com)

Berbagai keunikan dimiliki oleh bumi wali, Tuban. Mulai kuliner yang memiliki cita rasa khas, budaya dan sosial juga memiliki perbedaan dengan kabupaten/ kota lain. Termasuk pertaniannya juga memiliki keunikan tersendiri. Masyarakat Tuban yang bermatapencaharian sebagai petani memiliki tradisi ritual yang diwarisi secara turun temurun. Ritual yang kerap dilakukan terutama menjelang musim tanam yang disebut wiwitan (awal) dan menjelang musim panen.

Ritual yang akan penulis bahas terutama di Desa Penambangan, Kecamatan Semanding, pada periode tahun 1990an sampai 2000an.  Sebelum memulai menanam, para petani berbondong-bondong mengadakan selamatan atau berkatan. Petani yang selamatan akan membuat nasi dan pernak-perniknya, yang biasanya terdiri dari oseng mie, wortel, kentang, pepaya muda, telur, ayam. Namun ada juga yang sajian menunya lebih lengkap. Menu yang sudah disajikan tersebut diletakkan di nampan atau istilah Tubannya “tampah”.

 Setelah sajian siap, tetangga diundang untuk menikamti sajian. Eits… tapi tidak langsung dimakan ditempat, ada tata cara sendiri. Kalau tetangga yang diundang sudah datang, maka ada juru do’a yang dilantunkan dengan bahasa jawa. Pihak pendengar biasanya menguatkan do’a dengan ucapan “enggeh”, berbeda dengan do’a bahasa arab yang sering kita dengar. Penguatan agar do’a dikabulkan adalah dengan menyerukan kata “aamiin”. Meski berbeda, namun khidmat do’a tidak kalah dengan do’a bahasa arab. Jangan salah menyebut do’a jawa tersebut sebagai sesuatu yang syirik lo. Mereka tetap memanjatkan do’a kepada Allah SWT, karena dari pembuka do’anya tetap diawali bacaan bismillah.

Setelah selesai, hadirin dipersilahkan makan secukupnya. Kemudian nasi dan segala kelengkapannya dibagi-bagi ke undangan. Yang membuat menarik, bungkus berkat tidak seperti saat ini yang terbuat dari kotak kertas dan plastik, saat itu menggunakan daun  pisang dan bagian luar dilapisi daun jati. Bungkus seperti itu ternyata memberi tambahan cita rasa tersendiri pada makanan.

Saat itu ritual menyambut musim tanam dan musim panen masih kental dengan budaya kejawen. Tidak cukup dengan do’a kemudian pembagian berkat saja, namun di Desa Penambangan khususnya, petani membuat semacam gubuk mini di sawah yang dibawahnya diberi sesaji.

Bahan untuk sesaji antara lain sebagai berikut. Ayam panggang utuh, tumpeng kecil, nasi uduk, ketupat, lepet, pisang raja, pisang pulut, sayur kelor, ikan asin, terong bulat, gula merah, pulo (terbuat dari jagung yang dihaluskan dan dicampur dengan gula merah kemudian dikepal-kepal), ampo (terbuat dari tanah yang dikeringkan dan berbentuk gulungan kecil), bekakak (terbuat dari tepung dan biasanya dibentuk menyerupai manusia), cengkaruk gringsing (terbuat dari beras yang digoreng kemudian dicampur dengan kelapa parut), tikar kecil rangkap yang terbuat dari daun pandan, bantal kecil warna merah, kendi dari tanah liat, cuk bakal (terdiri dari buah pinang, pelepah pohon pinang yang ada bunganya, kembang bumbon seperti bunga kenanga, mawar, bunga gading, daun pandan wangi yang diiris-iris, cabe, bawang putih dan merah, ketumbar, dan rempah-rempah lain serta ditambah dengan uang recehan). Bahkan tidak lupa ada sajian kemenyan yang di bakar.

Sesaji yang diletakkan di sawah tersebut setelah dibacakan semacam do’a, maka boleh diambil oleh orang lain. Dan kebetulan saat itu, penulis sering ikut nimbrung mengambil makanan sesaji. Di penambangan, proses mengambil sesaji tersebut di sebut “nggagak”, karena saat proses pengambilan sambil menirukan suara burung gagak, “kkaaakkk, kkkaaakkk, kkkaaak”.

Baca ini pasti pada mikir ya. Sesaji tersebut untuk siapa? Menurut hasil pengamatan dan pemikiran penulis, sesaji tersebut di era 90an memang belum jelas ditujukan untuk siapa. Ada yang mengatakan bahwa sajian tersebut ditujukan untuk penjaga gaib pertanian, dan diyakini mampu memberikan hasil panen yang melimpah jika memberikan sajian tersebut.

Namun jangan khawatir, sekarang pandangan yang masih kabur tentang tujuan sesaji dan berbagai ritual tersebut sudah bergeser ke arah yang baik. Sekarang lebih ditujukan sebagai ungkapan syukur pada Allah SWT atas hasil panen yang didapat, dan sebagai ungkapan harapan panen melimpah.

Bentuk ritualnya pun berbeda dengan dulu. Saat ini hanya kondangan atau berkatan dan di do’akan dengan lantunan do’a bahasa arab, tapi masih tetap dilengkapi dengan do’a jawa. Berkat masih sama dengan era 90an, masih menggunakan bungkus daun pisang dan jati. Penggunaan bungkus berkat yang masih dipertahankan merupakan kebiasaan yang baik. Karena bungkus tersebut tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Adapun do’a yang dilengkapi dengan dua bahasa bukan suatu yang salah. Karena kebiasaan hidup sehari-hari memang menggunakan bahasa jawa dan bahasa arab merupakan bahasa asing sehingga kadang tidak paham dengan makna do’anya.

Benar salahnya tradisi saat itu tidak perlu di jadikan perdebatan, karena memang adanya faktor budaya yang diwariskan turun temurun, dan mungkin masih adanya budaya Hindu-Budha yang dulu pernah masuk ke Indonesia termasuk di Desa Penambangan, Kabupaten Tuban tersebut. Toh sekarang juga sudah bergeser ke arah yang lebih baik karena adanya perkembangan ilmu pengetahuan yang mempengaruhi pola pikir masyarakat.

Comments

comments

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *