Halo teman-teman!

Mengunjungi suatu daerah kurang lengkap jika tidak mencicipi kuliner lokal. Kalau Chef William Wongso mengatakan bahwa bule-bule sekarang ini senang dengan authentic local food di Indonesia. Mereka suka dengan makanan lokal, namun tidak sepanjang hari makan dengan blusukan di daerah-daerah. Bisa sekali dan selebihnya makan di hotel.

Indonesia memiliki banyak makanan lokal. Satu daerah bisa sangat berbeda dengan daerah lainnya. Semuanya unik dan bikin kangen. Wisata kuliner semakin bergairah. Penduduk lokal sebagai pangsa pasar utama ditambah dengan para pendatang dan wisatawan. Sayangnya kondisi saat ini, tidak memungkinkan untuk wisata kuliner di daerah asalnya. Hanya penduduk lokal yang meramaikan kuliner lokal. Semua masih seperti biasa. Tempat-tempat makan yang menyediakan menu lokal tetap semangat mengais rezeki dan menarik pelanggan.

Beberapa kuliner lokal yang harus teman-teman coba ketika sedang di Tuban adalah kare rajungan, becek menthok dan belut pedas. Namun jika di pagi hari, kalian penasaran ingin jalan-jalan, coba saja mampir di warung ketan yang tersebar di kota Tuban. Kita bisa sarapan ketan enak di Tuban. Meski tempatnya kecil tapi biasanya ramai pengunjung. Terutama bapak-bapak, sambil minum kopi dan ngobrol santai bersama teman-temannya.

Sebagian besar warung ketan buka di pagi hari bahkan sebelum shubuh. Setelah shubuh makin ramai karena banyak orang (laki-laki) yang pulang dari masjid mampir di warung ketan. Ada yang sambil jalan kaki mampir disini bersama pasangannya atau temannya. Ada sengaja bersepeda mampir di warung ketan.
Menu utama warung ketan adalah ketan dengan parutan kelapa dan sambal serundeng. Kelapa ini baru diparut ketika ada pembeli. Tapi kelapa ini sudah dikupas kulitnya hingga bersih. Begitu ada pembeli, penjual dengan cekatan memarut kelapa. Pekerjaan seperti ini tidak bisa dilakukan seorang. Penjual ketan biasanya menggandeng keluarga untuk melayani pembeli. Ada yang bagian menyiapkan ketan hingga membungkus, ada juga yang membuatkan minuman.

Selain ketan ada menu pendamping yang menggugah selera yaitu gorengan seperti tempe mendoan, pisang goreng, ubi goreng, dsb. Saya suka makan ketan dengan tempe mendoan. Saya rasa ini kombinasi yang pas, gurihnya ketan, pedasnya serundeng cocok ditemani tempe mendoan. Tapi jika makan di tempat, teman-teman bisa makan ketan plus minum kopi.

Warung ketan enak di kota Tuban

Beberapa warung berada di jalan raya. Jadi mudah untuk menemukannya. Beberapa warung merupakan bangunan kecil yang diapit rumah penduduk. Namun ada juga yang seperti warung kaki lima, hanya ada saat berjualan saja. Setelah selesai, mereka membongkar warungnya. Para pelanggan lebih ramai di akhir pekan atau hari-hari libur.

Sayangnya warung-warung ketan ini tidak memiliki nama. Namun jangan khawatir, saat ini cukup mudah untuk mencari warung ketan melalui GPS. Beberapa warung ini kerap menjadi incaran saya saat sarapan pagi.

1. Warung ketan samping Bravo (Jalan Basuki Rahmad)
2. Warung ketan Jl. Lukman Hakim gang Ikhlas
3. Warung ketan Jalan Pramuka (gapura pasar pramuka)
4. Warung ketan Pak Mardi di Jalan Pramuka

Sebenarnya masih banyak lagi warung ketan di Tuban, seperti warung nasi pecel dan nasi kuning yang juga menjual ketan. Tapi menu ketan bukan menjadi menu utama. Bahkan di pasar ada juga yang berjualan ketan, namun sudah bungkusan daun pisang. Ada juga warung ketan yang buka di sore hingga malam hari seperti warung ketan Ngemplak (jalan Basuki Rahmad). Yang menarik itu warung ketan di Jalan Lukman Hakim gang Ikhlas bukan saja menjual ketan namun juga serabi yang dimasak secara tradisional, dengan kayu bakar.

Nah, teman-teman yang penasaran dengan sarapan ketan enak di Tuban, coba deh mampir di salah satu warung tersebut. Jangan lupa mengantre di pagi hari setelah shubuh. Karena setelah pukul 06.00 warung-warung tersebut sudah mulai usai berjualan. Bahkan jika ramai sebelum waktu itu, mereka sudah tutup.

Selamat menikmati kuliner di Kota Tuban, ya!

^_^