Selasa, 20 Oktober 2026

Apakah Aku Bisa?

Cerpen • Gagas Galang M • 8 min read •

Sekilas, orang-orang mungkin mengira ada pertunjukan musik langsung di sudut jalan itu. Namun, suara itu bukanlah lantunan penyanyi kafe, melainkan petikan gitar usang dari seorang pengamen jalanan. Nyanyiannya terdengar riang, meski ada serak basah dari tenggorokannya yang lelah aroma kegetiran yang justru memberi nyawa pada lagu tersebut. Wajar saja, barangkali ia sudah mendendangkan lagu sejak pagi buta hingga sang purnama bertahta tegak di angkasa.

Malam ini nyaris sempurna. Sedikit lagi. Di kota metropolitan ini, langit malam mahakarya Sang Pencipta memang tertutup kabut asap kendaraan dan pendar gedung-gedung pencakar langit, menelan gemerlap bintang hingga tak bersisa. Namun, purnama tetap bersinar kukuh. Deru bising lalu lintas tak kunjung reda membelah kota, ditemani lampu-lampu jalanan yang menerangi setiap seluk-beluk gang sempit. Rangkaian kereta listrik terus melaju tanpa jeda, membelah hiruk-pikuk malam yang sudah menjadi denyut nadi biasa di kota metropolitan.

Sayangnya, kesempurnaan malam itu perlahan koyak.

Dari kejauhan tercium aroma tembakau murahan berbaur pekatnya alkohol. Langkahnya gontai, pakaiannya lusuh dan berbau apek seperti kain kotor yang terlantar bertahun-tahun. Celananya compang-camping bahkan karung goni bekas pun tampak jauh lebih rapi. Guratan tato murahan tercetak mentereng di sepanjang lengannya yang legam. Begitu sosok itu melangkah, orang-orang sontak menyingkir, seolah memberi jalan bagi raksasa yang siap memangsa.

Dialah Ronjo, penguasa jalanan setempat.

Tubuhnya kekar menjulang bagai binaragawan, tingginya nyaris menyerupai tiang pancang jalan layang. Rambut gondrongnya terurai liar membingkai wajah yang garang dan mengintimidasi. Semua orang takut padanya, semua orang mengenalnya, tetapi tak satu pun benar-benar memahami siapa dirinya.

Bagi warga sekitar, preman identik dengan pemalakan, penagihan utang berdarah-darah, mabuk-mabukan, dan biang onar. Namun, Ronjo berbeda. Ia memang memalak, tetapi hanya memalak preman-preman jalanan yang menindas kaum lemah. Ia memang menagih utang, tetapi hanya mengejar orang-orang kaya pongah yang gemar berfoya-foya dan mangkir membayar kewajiban sambil berpura-pura jatuh miskin. Ia kerap baku hantam, tetapi kepalan tangannya hanya melayang ke arah siapa saja yang berani mengusik pengemis, penyandang disabilitas, atau orang-orang tak berdaya. Meski berhati lurus, Ronjo tetaplah manusia jalanan: ia menenggak arak, mengepulkan asap rokok, dan bertubuh penuh rajah.

“Ronjo itu preman yang punya kehormatan,” bisik mereka yang pernah diselamatkan oleh tangannya. Julukan itu melekat erat karena nuraninya yang bertolak belakang dengan penampilannya.

Malam itu, di bawah pengaruh minuman keras, Ronjo menyusuri trotoar. Langkahnya membuat orang asing bergidik ngeri. Di tengah kesunyian kepalanya sendiri, ia bergumam getir, menertawakan ketakutan orang-orang di sekitarnya.

“Haha… semua orang lari melihatku. Memangnya seram sekali mukaku ini, ya? Hahaha…”

Tanpa sadar, langkah kakinya membawanya kian jauh menembus keramaian, hingga sayup-sayup terdengar suara pengamen yang tengah membawakan lagu bertajuk Membasuh. Petikan dawai dan lirik lagu itu merayap masuk ke benak Ronjo, menghadirkan ketenangan ganjil di tengah kepalanya yang berdengung mabuk.

Lalu, sebaris bait menyentak jiwanya:

Bisakah kita tetap memberi? Walau tak suci.

Bisakah kita terus mengobati? Walau membiru.

Langkah Ronjo mendadak membeku.

Ia berdiri mematung di pinggir jalan. Pikirannya yang tadi mengembang mabuk seketika tersentak tajam. Lirik sederhana itu terasa bagai cambuk yang menghantam palung hatinya. Keraguan dan tanya bergulat riuh di kepalanya:

Apakah orang miskin papa sepertiku masih pantas membantu?

Apakah tangan sekotor ini masih diizinkan memberi?

Apakah jiwa yang penuh lumuran noda ini bisa kembali suci?

Masih sudikah Tuhan memaafkan pendosa bejat ini?

Apakah… apakah aku masih bisa diampuni?!

Pikirannya berkecamuk hebat, bagaikan persimpangan jalan tanpa rambu di tengah jam sibuk kacau, bising, dan menyesakkan dada. Mabuk fisiknya seketika luntur, kalah oleh keputusasaan batinnya sendiri.

Tanpa tujuan pasti, langkah gontainya terhenti di pelataran sebuah masjid tua. Angin malam berembus dingin menusuk tulang. Fajar kian mendekat, menandakan waktu subuh tinggal menghitung menit. Ronjo berdiri terpaku di depan gerbang. Keraguan menyergap langkahnya. Merasa jijik dengan dirinya sendiri, ia memutar badan, berniat melangkah pergi entah ke mana.

Namun, saat berbalik, pandangannya beradu dengan sepasang mata teduh.

Seorang lelaki tua bertubuh kurus dengan kulit keriput berdiri memperhatikannya. Rambutnya memutih dipenuhi uban, menebarkan wangi minyak kasturi yang lembut. Lelaki itu mengenakan baju koko putih bersih, peci hitam, dan sarung yang tersampir rapi sosok ustaz yang dihormati di kampung itu, biasa disapa Pak Haji.

Pak Haji menatapnya tanpa secuil pun rasa gentar.

Melihat sosok suci itu, Ronjo mendadak dirayapi rasa malu yang teramat sangat. Ia bergegas membuang muka dan hendak melangkah pergi, tetapi suara serak yang ramah menghentikannya.

“Mau ke mana, Mas? Kenapa buru-buru pergi? Mari duduk dulu di sini, sebentar lagi waktu subuh tiba.”

Ronjo tertegun. Jarang sekali ada orang yang berani menahan langkahnya; biasanya orang-orang justru lari terbirit-birit melihat perawakannya. Dulu, jika ada yang berani menghalangi jalannya, amarahnya pasti tersulut. Namun kini, di hadapan pria tua itu, hatinya justru dialiri rasa damai yang aneh.

“I-iya, Pak… terima kasih,” sahut Ronjo terbata-bata. Sang penguasa jalanan yang ditakuti itu mendadak merasa kerdil. “Tapi… saya ini kotor, Pak. Apa pantas orang seperti saya masuk ke tempat ini?”

Pak Haji tersenyum hangat, kerut di wajahnya membentuk garis-garis keteduhan. “Kata siapa tidak boleh? Kalau mau langsung salat memang harus bersuci dulu menghadap Sang Maha Pencipta. Tapi untuk berteduh dan duduk di pelataran sini, pintu masjid selalu terbuka. Mari duduk, temani saya mengobrol. Kelihatannya Mas sedang memikul beban berat di pundak. Sini, temani saya biar tidak sepi.”

Pak Haji tentu mencium sisa bau alkohol yang menguar dari tubuh Ronjo, tetapi ia tak menampakkan sedikit pun ekspresi jijik. Keramahan itu meluluhkan sisa-sisa kegamangan Ronjo. Dengan canggung, pria bertubuh besar itu melangkah mendekat dan duduk di lantai pelataran.

“Ada apa, Mas? Wajahmu tampak sangat gelisah,” tanya Pak Haji lembut.

Ronjo menunduk dalam-dalam. Selama ini tak pernah ada orang yang peduli menanyakan kabarnya tanpa rasa takut. “Tidak apa-apa, Pak… Saya cuma… habis minum sedikit,” kilahnya pelan, berusaha menutupi guncangan hatinya.

Pak Haji terkekeh pelan. “Mas, tidak usah malu-malu begitu. Ceritakan saja.”

Kelembutan itu meruntuhkan pertahanan Ronjo. Ia menghela napas berat, matanya memanas. “Begini, Pak… Di dalam hati, saya ingin sekali bertaubat. Tapi…”

Sebelum kalimat itu selesai, senyum Pak Haji merekah lebar. “Alhamdulillah, niat itu mulia sekali, Mas. Lalu, mengapa harus ada kata ‘tapi’?”

“Tapi… saya merasa tidak pantas berada di sisi Tuhan, Pak,” suara Ronjo bergetar menahan tangis. “Saya ini manusia kotor, pendosa jalanan. Bagaimana mungkin jiwa sekelam ini bisa disucikan kembali? Apakah Tuhan sudi mengampuni dosa-dosa saya yang segunung? Saya takut… saya takut kalau sudah tobat, saya malah goyah dan kembali jadi bajingan. Bisakah orang seperti saya berubah jadi orang baik di mata masyarakat? Apakah saya bisa, Pak?”

Ronjo tertunduk layu. Tubuh kekarnya gemetar. Di pelataran masjid itu, ia merasa tak lebih dari seonggok sampah yang tak berguna.

Pak Haji menepuk bahu Ronjo dengan lembut. Sorot matanya memancarkan keteduhan seorang bapa.

“Mengapa Mas berpikir sekerdil itu, padahal niat di hati Mas begitu bercahaya? Memang benar, manusia tak luput dari dosa. Tetapi ketahuilah, Mas, tidak ada pendosa yang ditakdirkan selamanya tenggelam dalam dosa. Selalu ada waktu, selalu ada jalan bagi seorang hamba untuk dijemput hidayah. Niat bertaubat yang hadir di dada Mas malam ini adalah bukti nyata bahwa Allah masih rindu dan mencintai Mas.”

Pak Haji menghela napas, lalu melanjutkan kata-katanya dengan tenang.

“Tadi pun, saat saya keluar dan melihat sosok Mas yang besar di depan gerbang, hati saya sempat ragu. Namun, prasangka itu hilang seketika saat melihat pandangan mata Mas. Saya tahu, jiwa di balik raga besar ini sedang tersesat dan merindukan lentera penuntun. Mas, urusan diterima atau tidaknya ampunan itu bukan kuasa manusia, melainkan hak prerogatif Sang Maha Pengasih. Tugas Mas saat ini hanya satu: pasang niat yang tulus dari lubuk hati dan bulatkan tekad untuk berbenah. Insyaallah, perlahan tapi pasti, lembaran hitam akan berganti putih. Allah pasti melapangkan jalan bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh melangkah ke arah-Nya. Jadi, jangan pernah ragu lagi.”

Setiap patah kata Pak Haji meresap bak tetesan embun di tanah yang gersang. Ronjo terisak pelan. Kehangatan yang belum pernah ia kecap seumur hidup meluap di dadanya, mendesak air mata jatuh membasahi pipinya yang bertato.

Obrolan dari hati ke hati itu terus mengalir hingga kumandang azan subuh mulai menggema di langit fajar.

Ketika Ronjo hendak beringsut pamit karena merasa raganya belum suci, Pak Haji kembali menahannya. Beliau menuntun Ronjo ke tempat wudu, memintanya mandi dan menyucikan diri, lalu bergegas ke rumahnya yang bersebelahan dengan masjid untuk membawakan sehelai kemeja bersih dan sarung.

Di bawah pancuran air, Ronjo membasuh sekujur tubuhnya.

Air dingin mengalir membasahi rambut kotornya, melarutkan sisa-sisa peluh dan debu jalanan. Bersama riak air yang mengalir ke saluran pembuangan, seolah ikut larut pula lembaran kelam masa lalunya yang penuh nestapa.

Dengan pakaian bersih pinjaman Pak Haji, Ronjo berdiri tegak di shaf salat, bersujud dengan hati yang lapang. Sentuhan kasih sayang dan ketulusan Pak Haji telah membuka pintu gerbang hidupnya yang baru. Seperti bayi yang baru menyapa dunia, Ronjo bagaikan terlahir kembali dengan secercah harapan. Kesempatan kedua itu digenggamnya erat-erat.

Seiring berjalannya waktu, Ronjo sang preman jalanan benar-benar mengubur masa lalunya. Kini, raga besarnya mengabdi sebagai penjaga kebersihan dan keamanan masjid kebanggaan warga. Sikap tegasnya tetap ada, bukan lagi untuk berbuat onar, melainkan menjadi perisai bagi mereka yang membutuhkan perlindungan.

Masa lalu memang tak bisa diubah, tetapi masa depan selalu menyediakan lembaran putih. Setiap manusia sekelam apa pun rekam jejaknya selalu berhak atas kesempatan kedua untuk pulih dan menjadi pribadi yang lebih baik dari hari kemarin.