Jam Karet Orang Indonesia (Bagian I)

“Mau berangkat ke rapat jam berapa?”, tanya seorang mahasiswa kepada temannya satu organisasi.

“Ah, nanti agak nelat aja. Paling yang lain juga telat”, jawab temannya.

Orang Indonesia sangat terkenal dengan jam karetnya. Istilah jam karet merujuk pada kebiasaan orang Indonesia yang sulit tepat waktu.

Penyakit jam karet ini hampir ditemui di semua hal. Misalnya, ada pengumuman bahwa suatu acara akan dimulai jam sembilan pagi. Pertanyaannya, apakah akan dimulai tepat jam sembilan pagi?

Mayoritas dari kita akan meragukan hal itu. Kita akan berpikir, “Datang jam setengah sepuluh sajalah… Acaranya pasti molor”. Pola pikir inilah yang terjadi di Indonesia.

Contoh lain, jika kita sedang ada janji dengan teman-teman untuk berkumpul jam empat sore. Pertanyaannya, apakah kita akan datang tepat waktu jam empat sore?

Mengapa Jam Karet Sulit Dihilangkan?

Datang tidak tepat waktu merupakan kebiasaan orang Indonesia. Paradigma, prasangka buruk, dan persepsilah yang mempengaruhi kebiasaan orang Indonesia sehingga dijuluki masyarakat jam karet.

Paradigma bahwa acara tidak dimulai tepat waktu; prasangka buruk bahwa orang lain datang tidak tepat waktu; persepsi bahwa waktu yang dicantumkan lebih awal dalam pengumuman merupakan strategi panitia agar acara tidak molor terlalu lama.

Kebanyakan dari kita setelah melihat pengumuman acara jam sepuluh akan berpikir, “Pasti sebenarnya panitia mau memulainya jam sebelas, tapi mencantumkannya di pengumuman jam sepuluh”.

Jika kita terus berpikiran seperti ini, maka sama halnya kita berprasangka buruk kepada orang lain, yakni meragukan orang lain untuk bisa datang tepat waktu.

Kita juga tidak menghargai orang lain yang sudah berusaha datang tepat waktu dengan keterlambatan kita. Kalau hal ini terus saja dilakukan, maka kapan kita bisa berubah?

Orang Indonesia yang terbiasa memaklumi keadaan juga menjadi faktor jam karet ini.

“Kenapa kamu terlambat?”

“Tadi di jalan macet pak”

Hal ini sering kita temui. Kebiasaan memaklumi keadaan yang seperti ini jika dilakukan terlalu sering tentu tidak baik. Jarang sekali yang menganggapi seperti ini, “Kalau tahu jalan sering macet, mengapa tidak berangkat lebih awal?”

Memaklumi keadaan salah yang dilakukan terlalu sering, seperti jam karet ini, akan membuat kita tidak tegas. Jika kita tidak tegas, maka kedisiplinan akan sulit untuk diterapkan. Nah, kalau kedisiplinan tidak bisa diterapkan, lalu kapan negara kita mau menjadi negara maju?

Ahmad Musyaddad

Author | Entrepreneur | Philosophy Enthusiast | Mindset Specialist

7 tanggapan untuk “Jam Karet Orang Indonesia (Bagian I)

  1. Memang susah sekali mengajak orang tepat waktu, saya jika mengundang acara sosialisai jg gitu, diundang jam 9 dtg jam 10 itu absensi pertama.. Absensi twrakhir bisa jam 11.. Kita yang nunggu kdg malu sendiri dg tamu undangan VIP

  2. Jiwa sebagian masyarakat indonesia memang suka menelatkan diri. Sebaiknya memang kebiasaan ontime dimulai dari diri sendiri. Tanpa peduli orang lain mau telat apa tidak

Tinggalkan Balasan ke KD Blog Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *