Kepala desa tanpa kepala

Suteki sudah berusia 25 tahun, tetapi ia tidak pernah berani membuat KTP. ” Saya Takut, ” Jawbanya ketika ia ditanya kenapa. ” Kata orang kepala desa kehilangan kepalanya saat ia berfoto KTP. Saya mau bikin KTP, hanya kalau tanpa berfoto atau berfoto diselain kepala. ”

Bapaknya merasa tolol dengan pertanyaanya sendiri. Karena jawabanya selalu sama. Tidak pernah benar, anaknya terlalu sering ngopi di warung-warung penyebar Hoaxs pro kepala desa.

Dia tidak tahu sejarah yang sungguh belum bisa dikatakan sejarah, karena masih terlalu hangat bagaikan tai ayam yang diterbitkan dua detik yang lalu.

” Bukan begitu ceritanya nak. ” Ingin sekali bapaknya ngomong begitu. Tetapi ia takut, anaknya kemudian membenci agama. Karena bagaimanapun, agama tidak pernah salah. Yang berkemungkinan salah hanya penganut agama sebagai tumpangan nafsunya.

” Bukan begitu ceritanya, nak. ” Akhirnya ia mengatakanya, mengingat anaknya sudah cukup dewasa untuk menentukan pilihan. ” Tetapi setelah ini kamu jangan Murtad ya? ”

” Jangan khawatir, pak. Kalaupun saya murtad, dan kemudian nanti bapak mati, saya tetap akan membacakan tahlil dan yasin. ”

” Bapak tidak menyangka, ternyata kamu tidak seculun dan segoblok yang bapak kira. ”

Dahulu kala, Desa panganan adalah Desa yang ayem tentrem, gemah ripah loh jinawi. Masyarakatnya saling menghormati. Siapa yang butuh bantuan, baik berupa materi maupun keamanan, segalanya akan saling memberi, Tanpa peduli apa ras dan agamanya.

Sampai datanglah seseorang entah dari mana. ada yang bilang, ia keturunan arab, meskipun kelahiran Indonesia. Dia sendiri mengaku sebagai keturunan Nabi. Mungkin yang dia maksud adalah Nabi Adam.

Orang Arab itu mengaku berdakwah, Ingin menyirnakan kemungkaran di Indonesia, ia dan kelompoknya membakar tempat-tempat yang diyakini keramat dan menebang pohon-pohon besar tempat peribadatan. Mestinya ia kualat, Dan ternyata tidak. itu membuat ia dan para pengikutnya semakin yakin bahwa yang mereka jalankan adalah kebenaran.

Pengikutnya pun semakin banyak. Sebenarnya ia juga ingin memadamkan matahari kalau saja ia bisa, Karena Matahari telah dipertuhankan oleh sebagian penduduk panganan.

Hingga terjadi suatu peristiwa. Kepala desa yang lama menaiki jabatan sebagai camat, Otomatis, wakilnya menggantikanya sebagai kepala desa. Orang arab itu memaki kepala desa yang baru, dan memaki semua masyarakat panganan, Bagaimana bisa ada orang kafir dan keturunan cina menjadi pemimpin.

Orang arab itu mengutip sebuah ayat tentang larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, Ia bersumpah azab tuhan akan segera tiba jika orang kafir cina itu tetap menjabat sebagai kepala desa, tetapi orang-orang menenangkanya, karena tanpa perlu kudeta, pemerintahanya sudah hampir berakhir. Tinggal tiga hari.

” Lalu kita akan membiarkan masyarakat kita tiga hari dalam murka Tuhan? ”

Di ujung desa sana, si kafir cina menertawakan si Arab. ” Bagaimana bisa ada orang selucu itu, ” Pingkalnya.

Ungkapan ” Bagaimana bisa ada orang selucu itu ” dianggap sebagai penghinaan terhadap ulama dan agama. Hal ini dimanfaatkan oleh calon epala desa yang baru. Dengan menggandeng si Arab, tentu akan sangat mudah untuk memenangkanya.

” Saya juga keturunan Arab, Tapi Arab Maklum, ” Kelakar si calo kepala desa. ” Saya Islam, dan jika saya menjadi kepala Desa, saya akan mengutamakan Umat Islam. Saya mendengar Kepala desa yang sekarang akan mencalonkan Lagi. Saya khawatir kekafiran akan sangat merajalela. O, iya. Dan ini, ada sejumlah Uang. ”

” Untuk apa ini? ” Orang arab itu mengernyitkan dahi. Seolah-olah tidak paham dengan apa yang telah gamblang.

” Ini hadiah wan, Keturunan Nabi hanya menolak Zakat, tapi tidak menolak hadiah kan? ”

Keesokan harinya, anak-anak kecil membawa obor sambil bertriak, ” Bakar cina! ” Sementara orang Dewasanya membawa parang sembari memekikkan takbir.

Jika ada yang sampai menghalau, siapa pun dia mendapat ancaman kalau mati bangkainya tidak akan dimandikan kecuali dengan air tinja.

Pak camat pun tidak kuasa menyabarkan. Karena sekali ia bicara, akan di sobek dan di bakar mulutnya.

Si kafir cina Itu menghadapi ratusan orang, sendirian. Tanpa rasa Takut, tanpa rasa gentar, ia melawan. Dan terlalu banyak lawan untuk memenangkanya. Tapi, ia berprinsip, setidaknya telah mengupayakan kebenaran, walau kemudian tubuhnya dibakar dan kepalanya dipenggal dan dilempar di kandang babi. Dan rupanya si pemenggal tidak sadar, Ia juga memenggal kepalanya sendiri.

Orang yang memenggal keppalanya sendiri ini kemudian terpilih sebagai kepala desa. Orang-orang tidak pernah peduli apakah kepala desa punya kepala atau tidak. Apalagi soal kinerja dan kebijakanya. Yang penting seagama. Karena dengan hanya azab Tuhan tidak di turunkan.

” Pak, saya ingin memenggal kepala, agar bisa jadi kepala desa, ” Komentar Suteki setelah bapaknya selesai bercerita.

” Nak, menjadi provokator lebih banyak hasilnya. Apalagi kau sudah pandai pidato, menulis, dan membaca kitab gundul. Si arab itu, sampai sekarang belum habis-habis uangnya. Ia bisa sesuka hati ke luar Negri kapan pun ia mau. Bahkan ia bisa berhaji walau tidak di bulan Zulhijjah. ”

” Ini bukan masalah uang, Pak. Tapi kekuasaan. “

Fathnan

Hanya santri yang suka bermain di dunia Internet.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *