Pola Interaksi Anak Nelayan: Perlu Dimengerti Dan Dipahami

Keberadaan kelompok-kelompok nelayan di Indonesia cukup banyak dan tiap-tiap kelompok memiliki karakteristik berbeda antara satu dengan yang lain. Banyaknya kelompok nelayan tersebut didukung oleh komoditi perikanan di Indonesia yang cukup besar serta mempengaruhi jumlah nelayan di Indonesia. Dalam kelompok-kelompok tersebut masing-masing memiliki karakteristik kebudayaan yang berbeda karena berada dalam latar belakang suku dan letak geografis. Termasuk diantaranya adalah kehidupan kelompok nelayan di  Kabupaten Tuban. Kehidupan nelayan yang dimaksud tidak hanya dalam lingkup pekerjaannya saja, namun mengenai kehidupan masyarakat nelayan yang ditinjau dari keberadaan keluarga sebagai kelompok terkecil dalam masyarakat.

Masyarakat nelayan di Tuban tergolong masyarakat yang cenderung berinteraksi hanya pada kelompok masyarakat sesama nelayan. Meskipun secara geografis berada di kawasan  kota, namun perkembangan sosial tidak sepenuhnya berubah dari masa sebelum orde baru. Perubahan yang terjadi seperti sifat mereka yang telah mulai terbuka pada pihak di luar nelayan untuk berinteraksi. Namun, interaksi yang dilakukan tidak seterbuka masyarakat bukan nelayan.  Nampaknya mereka lebih memilih untuk meneruskan apa yang sudah mereka peroleh dari orang tua mereka untuk menjadikan suatu kebudayaan yang sudah cukup memuaskan bagi masyarakat setempat.

Selain itu, perubahan sosial yang terjadi disebabkan adanya pergeseran budaya yang berasal dari interaksi sosial. Salah satu media tempat pergeseran itu terbentuk adalah dari institusi pendidikan. Pendidikan membuat pelajarnya memiliki sikap terbuka dan menyukai hal-hal baru. Masuknya pendidikan pada anak nelayan ini lambat laun semakin banyak berpengaruh karena mereka merupakan agen penerus komunitas bagi orang tuanya. Pola pikir yang demikian juga terbentuk karena dinamika masyarakat yang menimbulkan pengaruh cukup dramatis.

Pola interaksi anak yang terjadi adalah dengan orang tua, saudara kandung, kerabat, tetangga, dan teman sebaya. Pada era tahun 1990-1998an hubungan anak terhadap orang tua masih sangat menjunjung tinggi nilai kesopanan atau unggah-ungguh misalnya penggunaan bahasa Krama madyapada orang tua. Contoh lain yaitu ketika anak lewat di depan orang tuanya maka sang anak menundukkan kepalanya sebagai etika anak terhadap oang tuanya. Kemudian ketika berbicara mengenai kepatuhan anak, masih terus dilaksanakan tugas anak untuk patuh kepada orang tua dalam setiap perintah. Berbeda dengan masa kini dimana konsep-konsep kesopanan zaman dahulu mulai ditinggalkan generasinya. yang mana bahwa anak kini telah menggunakan bahasa Jawa ngoko.

Pada pola interaksi anak nelayan dengan saudara kandung, interaksi yang terjadi merupakan adanya kebersamaan diantara mereka sebab aktivitas mereka cenderung terarah pada kegiatan kerja dan keseharian sebagai keluarga anggota keluarga nelayan.  Terlebih lagi apabila dalam keluarga tersebut terdiri atas lebih dari 1 anak, maka pekerjaan pokok dalam kehidupan rumah tangga menjadi lebih terbantu atau sebaliknya menjadi lebih kompleks atau rumit. Keberadaan interaksi antar saudara sekandung, khususnya pada masyarakat setempat, menjadi tugas orang tua untuk mengatur keberadaan mereka dalam posisi secara horizontal dalam keluarga. Posisi tersebut mengatur tugas masing-masing individu yaitu misalnya kakak menjadi pembimbing bagi adiknya serta adik menjadi pihak yang wajib dilindungi keberadaannya oleh kakak. Dalam tugas tersebut, orang tua menganjurkan pada anak-anaknya untuk menghormati kepada anak yang lebih tua.

Dalam hubungan persaudaraan tidak jarang terjadi konflik. Persaingan atas hal-hal rutin dalam rumah terkadang dapat memicu konflik. Misalnya ketika saudara sekandung berebut makanan dan salah satu diantara mereka tidak mau mengalah, ketika berebut siaran televisi, kecemburuan salah seorang anak yang merasa tidak mendapat kasih sayang lebih dari orang tua dibanding saudaranya. Ini akan menimbulkan kecemburuan sosial karena sang anak akan masing-masing memainkan peranan memperlihatkan keunggulannya dari pengalaman-pengalamannya pada proses belajarnya sebagai individu-individu tertentu.

Interaksi anak dengan kerabat terkadang dapat lebih dekat dengan paman atau saudara sepupunya dibanding dengan orang tua, biasanya hal ini terjadi apabila sedang terjadi kerenggangan antara anak dengan orang tuanya. Anak pun mencari solusi kepada saudara yang umurnya sebaya. Hal ini menjadi salah satu pilhan bagi anak ketika menghadapi konflik karena saudara masih merupakan kelompok kekerabatannya dan karena saudara sebaya dengannya. Ada perasaan malu apabila ia mencurahkan hatinya pada orang yang lebih tua. Sehingga pelarian anak atas masalah yang ia hadapi adalah meminta bantuan pada kerabat untuk menyelesaikan atau melupakan masalahnya dengan mengonsumsi narkoba.

Dalam sistem kekerabatan masyarakat nelayan Tuban masih mengenal sayan atau gotong-royong. Hal ini hampir terdapat pada seluruh kegiatan yang diadakan oleh salah satu keluarga. Sehingga akan membentuk kekeluargaan yang sangat erat serta mengarah pada keserasian misalnya pada saat mereka membangun rumah keluarga yang berjarak lebih dekat akan membantu tanpa meminta upah dari pemilik rumah yang  juga kelurganya tersebut.

Orang-orang di luar lingkup keluarga nelayan dipahami anak hanya sebagai orang lain yang ketika mereka membutuhkan bantuan maka mereka mulai berinteraksi, namun di luar kepentingan itu maka hampir tidak ada interaksi yang terjadi. Masyarakat bukan nelayan di Tuban menganggap bahwa anak keluarga nelayan adalah anak yang nakal, bermoral rendah, dan kotor. Mereka menganggap rendah (underestimate) anak nelayan atas pandangan ketidak becusan orang tua nelayan dalam mendidik anaknya. Tetangga bukan nelayan juga membeda-bedakan sikapnya terhadap anak nelayan dan bukan nelayan. Mereka mengizinkan anak-anak mereka berteman dengan anak nelayan namun dengan anjuran agar menjaga jarak dengan anak nelayan tersebut. Mereka takut apabila anak mereka disakiti secara fisik oleh anak nelayan, meskipun pada faktanya tidak sepenuhnya demikian. Sementara bagi tetangga yang keluarganya berlatang belakang nelayan, anak nelayan baginya tidak dibedakan dengan anak lain pada umumnya. Hal tersebut dibuktikan dengan sikap terbuka tetangga tersebut ketika ibu dari anak nelayan meminta bantuan untuk menjaga sang anak.

Wujud interaksi yang ada antara anak dan teman sepermainan dapat dipahami sebagai hubungan interaksi antara anak-anak yang memiliki kesamaan tingkatan umur. Biasanya teman sepermainan anak juga berhubungan dengan tingkatan pendidikan yang sedang ditempuh (untuk anak yang masih sekolah). Interaksi yang dilakukan anak dengan teman sepermainan dilakukan cukup sering dengan intensits pertemuan hampir setiap hari. Interaksi dapat berupa saling bercerita dan melakukan permainan. Anak-anak berkumpul di depan rumah salah seorang teman atau tempat lapang yang telah ditentukan untuk bermain, atau dapat pula di dalam lingkungan sekolah ketika waktu istirahat saja. Mereka biasa berkumpul pada siang hari sepulang sekolah hingga sore hari ketika akan mengaji. Permainan yang sering dilakukan adalah bal-balan (sepak bola), kelereng, sketeng, dan delik’an.