Sebelum Tuban Benar-benar Jadi Smart City, Dusun Karangrejo, Desa Penambangan Dibenahi Dulu Infrastrukturnya Pak Bupati

“Pak Bupati, jenengan sampun nate mlampah-mlampah teng Dusun Karangrejo Desa Penambangan nopo dereng?” Ingin sekali bertegur sapa dengan pak Bupati Tuban dan mengungkapkan pertanyaan tersebut. Sayang tidak pernah kesampaian. Saya terlanjur pindah ke Malang demi pendidikan yang lebih baik. Kala itu, saya yang masih SMA ingin sekali bertemu pak Bupati dan meminta perbaikan sarana umum terutama jalan yang masih makadam kasar. Jalan juga selalu gelap pada malam hari. Tanpa penerangan sama sekali. Sekarang juga masih gelap dengan akses jalan yang diaspal tapi rusak. Parah!

Kabarnya, sekarang Tuban menuju smart city. Menuju lebih baik. Smart city: apa hak perbaikan infrastruktur hanya untuk warga kota? Jangan mikir kejauhan dulu sebelum desa pun terjamah perbaikan secara merata. Smart city tidak ada makna! Hanya nama saja yang berarti kota pintar tanpa pemerataan pembangunan. Dari dulu saya masih SD tahun 1996 hingga saat ini (saya perhatikan saat pulang kampung) ketimpangan pembangunan masih benar-benar jauh. Bahkan saya pribadi sempat berpikir, setiap pemangku jabatan di pemerintahan kabupaten Tuban hanya memperkaya diri sendiri. Karena banyak tetangga di desa saya yang kehidupannya jauh dari mapan. Beda dengan kehidupan pejabat Tuban. Apa tidak ada langkah jitu mengentaskan ketimpangan ekonomi tersebut? Yang kaya mestinya menggandeng yang miskin.

Pak Bupati beserta bawahan Anda, monggo turun ke jalan. Ke Desa Penambangan, Dusun Karangrejo. Setelah ke sana, apa yang terbersit di benak Anda? Mampukah Anda menyulap kondisi tersebut menjadi desa yang lebih baik lagi. Kemiskinan membuat penduduk kampung tersebut jarang yang berpendidikan tinggi sehingga inovasi juga terhenti.

Jangan mengandalkan laporan dari camat atau kades saja. Bisa saja data yang dilaporkan tidak valid. Turun langsung dan pantau. Kalau perlu ke sana malam hari. Mampukah Anda berjalan di gelap malam di atas aspal yang mengelupas dan siap menggerogoti kaki kapanpun?

Awalnya memang saya ingin diam dan menjadi penonton dari jauh (Malang). Toh saya juga sudah pindah tempat. Tapi keluarga, teman dan saudara sekapung saya tinggal di desa tersebut. Mungkin saatnya saya mengungkapkan lewat tulisan ini.

Jalan di Karangrejo yang rusak bisa dipantau dengan alur sebagai berikut. Dari SDN Penambangan 3 terus ke selatan arah Desa Sambongrejo. Sebelum jembatan, ada jalan dengan aspal dan ditambal dengan makadam. Kalau belum ketemu, bisa tanya ke orang: jalan menuju sumur pahit. Ikuti jalan tersebut sampai ketemu percabangan tiga/ pertigaan. Yang kondisinya parah adalah pertigaan lurus. Sebenarnya, pertigaan belok kiri juga kondisinya rusak, tapi ada pembenahan dengan penambalan makadam halus

Selain infrastruktur berupa jalan, di dusun tersebut juga agak sulit dijangkau signal internet. Rumah saya yang tepatnya berada di RT 29 RW 10, juga sulit ditembus signal. Bahkan telkomsel saja kembang kempis.

Dengan kondisi sulit dijangkau signal tersebut, bagaimana penduduk dusun tersebut mengenal TAPROSE dan berbagai program smart city lainnya? Sepertinya mustahil ada sosialisasi ke lapangan langsung. Paling-paling melalui pemberitaan media. Mohon diingat, penduduk kampung tidak seperti warga kota. Mereka tidak suka baca media cetak. Lihat televisi juga tidak peduli dengan iklan. Dengarkan radio di jaman sekarang juga jarang.

Kondisi jalan di karangrejo: aspal mengelupas dengan tambalan makadam

Pesan saya: Sebelum Tuban Smart City, Dusun Karangrejo, Desa Penambangan Dibenahi Dulu Infrastrukturnya Pak Bupati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *